Kamis, 02 Agustus 2012

Militansi Saksi Kristus

Telah terbit 
sebuah buku bacaan rohani
untuk para (calon) penerima Sakramen Krisma
merenungkan konsekuensi dan tanggung jawab
setelah menerima Sakramen Krisma
dan bagaimana menjadi saksi Kristus yang militan dewasa ini
Judul: Militansi Saksi Kristus
Penulis: F.X. Didik Bagiyowinadi Pr
Publikasi: Pustaka Nusatama, Juli 2012
Harga : Rp. 15.000,-


Minggu, 23 Oktober 2011

Benih Firman - Alternatif Materi PID



Benih Firman:
Sebuah Alternatif Materi Pendalaman Iman Dewasa
Oleh:
F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr[1]


            Dalam Gereja Katolik Indonesia, pendalaman iman bukanlah kegiatan gereja yang banyak peminatnya. Pendalaman iman di lingkungan ini tidak selaris-maris doa arwah-syukur ataupun aneka bentuk devosi-ziarek. Kendati demikian, kita patut bersyukur bahwa di lingkungan-lingkungan ataupun wilayah diselenggarakan pendalaman iman, meniru Gereja para rasul yang tidak hanya tekun berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa, tetapi juga duduk mendengarkan pengajaran para rasul (Kis 2:42). Gereja Perdana menyadari perlunya mendengarkan pengajaran para saksi mata Yesus yang terpilih ini (bdk. Kis 1:21-22) sebab mereka selalu berhadapan dengan pelbagai angin pengajaran yang menyesatkan (lih. Ef 4:14). Melalui upaya pendalaman iman ini, dimana Kitab Suci semakin luas dibuka, dibaca, dan direnungkan bersama, cita-cita para Bapa Konsili Vatikan II mau diwujudkan (lih. DV 22). Menurut Sinode Para Uskup 2008, pendalaman iman merupakan salah satu cara Sabda Allah menghidupi Gereja, yakni melalui katekese.[2]
            Tulisan ini dimaksudkan untuk menyajikan panorama singkat kegiatan pendalaman iman sebagai bentuk katekese dalam Gereja Indonesia dengan segala problematiknya, antara lain terbatasnya bahan yang siap pakai di lapangan. Selanjutnya pada sessi berikut Anda akan diantar untuk mempelajari aneka alternatif materi pendalaman iman yang terhimpun dalam buku Benih Firman (Obor, 2011). Diharapkan dengan demikian pembaca bisa terbantu dalam memanfaatkannya sebagai bahan pendalaman iman, baik pribadi maupun kelompok.

  1. Nilai-Nilai di Balik Pendalaman Iman
Pendalaman iman dewasa yang selama ini diadakan di lingkungan/wilayah dengan menghadirkan para pemandu “lokal” paroki, memang tidak seheboh dengan aneka acara Penyegaran Rohani yang dibawakan oleh para pembawa firman yang populer, entah itu imam ataupun awam. Namun, dengan melibatkan kaum beriman awam sebagai tenaga pemandu pendalaman iman, kita justru bisa melihat  nilai-nilai di balik kegiatan pendalaman iman ini.
Pertama, semakin banyak kaum beriman awam yang dilibatkan dalam tugas pewartaan, sebagai perwujudan tugas kenabian berkat baptis dan krisma. Kaum beriman awam mewartakan Injil tidak cukup dengan kesaksian hidup (LG 35), namun bila ada kesempatan, mewartakannya juga dengan kata-kata (AA 6).
Kedua, karena para pemandu bukanlah pembawa firman yang populer, di sini kita justru diajak pertama-tama datang dan berkumpul untuk menyadari kehadiran Kristus dan merenungkan Firman-Nya, bukan justru jatuh pada pengkultusan seorang pembawa firman.
Ketiga, dalam pendalaman iman ini umat diajak saling berbagi pengalaman iman untuk saling menguatkan. Peran pemandu lebih sebagai fasilitator. Maka sharing pengalaman perlu mendapat tempat dan waktu yang cukup. Sharing bukan dimaksudkan untuk pamer pengalaman iman, melainkan memberikan kesaksian bagaimana Firman Tuhan itu tetap berbunyi dan relevan di tengah aneka kesulitan dan tantangan. Maka pemandu pun tidak perlu khawatir manakala pesertanya jauh lebih pandai, sebab mereka tidak diajak untuk unjuk pengetahuan iman, melainkan berbagi pengalaman iman.

  1. Masih Perlukah Orang Dewasa Ikut Pendalaman Iman?
Banyak orang mengira bahwa mendalami iman Katolik hanyalah perlu dilakukan oleh para katekumen, anak-anak dan remaja, ataupun mereka yang masih minim pengetahuan imannya. Kalau kita kembali para perintah Tuhan Yesus dalam Mat 28:19-20a yang dalam teks Yunaninya hanya memuat satu kata kerja perintah (Jadikanlah semua bangsa murid-Ku”, sementara ketiga kata kerja yang lain (pergi, membaptis, dan mengajar) adalah suatu partisip, maka bisa diterjemahkan sbb:
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dengan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus [dan] dengan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.
Di sini jelas bahwa tujuan utamanya adalah menjadikan semua orang dari pelbagai bangsa menjadi murid Yesus. Kegiatan membaptis dan mengajar adalah cara bagaimana menjadikan mereka murid Kristus. Partisip “dengan mengajar” mengikuti “dengan membaptis”. Maknanya jelas, bahwa pengajaran iman atau katekese juga tetap diberikan setelah orang dipermandikan. Pengajaran di sini bukan pertama-tama soal doktrin atau ajaran iman, melainkan soal praksis mewujudkan segala ajaran Kristus. Upaya menjadi murid Yesus, yang terus melakukan semua perintah-Nya, tidak akan pernah selesai, sebab hanya Tuhan Yesuslah satu-satunya Guru kita (lih. Mat 23:8). Maka menjadi jelaslah, kenapa kaum beriman dewasa pun perlu tetap memperdalam imannya.
Alasan lain mengapa kaum beriman dewasa perlu terus memperdalam imannya adalah karena dalam perwujudan iman kita akan terus dihadapkan pada aneka situasi konkret, maka kita dituntut terus mengolah kondisi tanah batin agar Firman itu jatuh di tanah yang subur dan menghasilkan buah berlimpah.


Mat 13:1-23
Mrk:1-20
Luk 8:4-15
Semak duri
Kekhawatiran dunia dan tipu daya kekayaan
Kekhawatiran dunia, tipu daya kekayaan, dan keinginan akan hal-hal yang lain
Kekuatiran, kekayaan, dan kenikmatan hidup
Nasib Benih yang tumbuh di semak duri
Tidak tumbuh baik dan akhirnya mati
Tidak berbuah
Tidak menghasilkan buah yang matang
Tanah yang baik
Mendengar Firman dan mengerti
Mendengar dan menyambut Firman itu
Mendengar Firman itu dan menyimpannya dalam hati yang baik

Pendalaman iman dewasa dimaksudkan untuk mengolah kondisi tanah batin ini sehingga menjadi tanah yang subur bagi Firman Tuhan dan menghasilkan banyak buah. Pengolahan tanah batin ini dilakukan dengan permenungan dan sharing pengalaman iman bersama sehingga kita mendapatkan komitmen kuat untuk mewujudkan perintah Tuhan.

  1. Pendalaman Iman dalam Beberapa Dokumen Gereja
Paus Paulus VI dalam ensiklik Catechesi Traedendae no. 43 menggarisbawahi perlunya katekese bagi kaum beriman dewasa. Menurut beliau, mereka harus terus-menerus diterangi, disemangati, dan diperbaharui sehingga dapat menembus realitas temporal dalam pengalaman mereka. Sementara Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Redemptoris Missio No. 33 menyebut perlunya pewartaan Injil kepada Gereja sendiri (reksa pastoral), selain evangelisasi pertama (kepada orang atau bangsa yang belum mengenal Kristus) dan reevangelisasi (kepada orang atau daerah yang pernah menjadi Kristen, namun tidak lagi mempraktekkan imannya).
General Directory for Catechesis (GDC) no. 175 menyebut aneka tugas katekese bagi kaum beriman dewasa, yakni:
·         mewartakan pembentukan dan pengembangan  hidup kristiani dalam terang kebangkitan Kristus,
·         mengajar dan memberikan penilaian kritis atas perubahan sosial-kultural dalam masyarakat kita dalam terang iman,
·         menjernihkan pengalaman religius dan pertanyaan-pertanyaan moral dewasa ini,
·         menjernihkan hubungan antara aktivitas gerejani dan aktivitas sosial di tengah masyarakat,
·         mengembangkan pendasaran rasional atas pengertian iman,
·         mendorong kaum beriman dewasa untuk  turut ambil bagian dalam misi Gereja dan dapat memberikan kesaksian kristiani di tengah masyarakat.


  1. Pendalaman Iman dan Komunitas Basis
Menurut GDC 254, komunitas kristiani adalah asal, tempat (locus), dan tujuan dari katekese. Adanya komunitas kristiani menuntut adanya katekese, komunitas kristiani juga menjadi tempat berkatekese, dan akhirnya katekese mengabdi komunitas kristiani agar bertumbuh kembang dalam iman akan Kristus. Katekese yang dilakukan dalam komunitas kristiani yang lebih kecil (komunitas basis) menjadi jauh lebih efektif (GDC 264), karena:
·   Adanya rasa persaudaraan dan saling mengenal di antara umat satu komunitas basis,
·   Katekese secara konkret dapat memperdalam kehidupan komunitas dalam semangat iman kristiani.
·   Komunitas basis dengan jumlah yang relatif kecil memungkinkan orang merasa nyaman untuk berbagi pengalaman iman.

  1. Benih Firman” sebagai Alternatif Materi Pendalaman Iman
Salah satu kendala pelaksanaan pendalaman iman rutin di lingkungan-lingkungan, kelompok kategorial, ataupun paroki adalah terbatasnya bahan pendalaman iman yang siap pakai. Di luar masa APP dan bulan Kitab Suci, diandaikan paroki berkreativitas menciptakan bahan pendalaman iman sendiri. Namun, pengandaian demikian tidak selalu terwujud. Buku “Benih Firman” ini menawarkan alternatif 20 materi pendalaman iman yang siap-pakai di lapangan, sehingga bisa mengisi “bulan-bulan kosong” selama dua tahun.
Adapun skemanya sebagai berikut:
a.    Pergumulan Iman: Menampilkan pergumulan iman umat sehari-hari yang disajikan secara naratif eksperiensial, sebagaimana cara beriman yang lazim bagi orang Asia.[3] Beberapa narasi bertitik tolak dari pengalaman konkret umat, namun dijadikan anonim.
b.    Terang Firman: Menyajikan teks Kitab Suci yang bisa menginspirasi pergumulan iman tersebut. Peserta bisa diajak menyimak dan memperdalam teks. Pemandu bisa memanfaatkan buku-buku tafsir Kitab Suci yang diusulkan pada hlm. 5. Penjelasan eksegetis tidak disajikan mengingat terbatasnya waktu pendalaman iman, tetapi juga tujuan pendalaman ini bukanlah sekedar pendalaman kitab suci.
c.    Inspirasi Iman: Peserta diajak menyimak bagaimana Kitab Suci dan Ajaran Iman Gereja memberikan pencerahan atas pergumulan iman yang disajikan.
d.   Berbagi Pengalaman Iman: Pemandu mengajak peserta berbagi pengalaman iman dengan bantuan panduan pertanyaan. Pemandu boleh menambahkan pertanyaan untuk makin mengkonkretkan dengan situasi peserta. Merupakan tugas berat bagi pemandu membuat para peserta mau dan berani berbagi pengalaman iman.
e.    Setelah memberikan beberapa penegasan (5 menit), pemandu mengajak peserta mengangkat doa-doa umat spontan yang kiranya berkaitan dengan tema yang direnungkan dan selanjutnya menutup dengan Doa Bapa Kami bersama dan “Marilah Berdoa”.
f.     Alokasi waktu pendalaman iman adalah 60-90 menit.
g.    Sangat baik bila peserta juga memiliki buku ini sehingga dari rumah bisa mempersiapkan diri terlebih dahulu.
h.   Pemakaian ke-20 materi ini tidak harus berurutan.
i.      Ada baiknya sebulan sekali tim pemandu berkumpul bersama untuk mengadakan evaluasi pendampingan, mempelajari bahan bersama, dan juga pembagian tugas.

 

  1. Aneka Materi Pendalaman Iman Dewasa dalam buku “BENIH FIRMAN”
Berikut ini daftar tema pendalaman iman yang terhimpun dalam buku “Benih Firman”. Secara singkat kita akan menyimak isinya pada sessi berikutnya.
1.      Jalan Keselamatan dalam Agama Katolik (hlm. 28-34)
2.      Relasi Personal dengan Tuhan Yesus (hlm. 35-41)
3.      Mengimani Kuasa dan Kasih Tuhan (hlm. 42-47)
4.      Devosi Maria yang Sehat (hlm. 48-55)
5.      Semua Dipanggil Menjadi Suci (hlm. 56-64)
6.      Tuhan Yesus di Zaman Modern (hlm. 65-71)
7.      Kasih Versi Tuhan Yesus (hlm. 72-79)
8.      Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Kita (hlm. 80-87)
9.      Sakramen Tobat : Apakah Masih Laku? (hlm. 88-94)
10.  Menjadi Penjala Manusia (hlm. 95-101)
11.  Yuk, Terlibat di Lingkungan (hlm. 102-108)
12.  Persembahan yang Ikhlas, Bebas, dan Pantas (hlm. 109-116)
13.  Mendoakan Arwah (hlm. 117-125)
14.  Anak Allah Harus Sukses? (hlm. 126-132)
15.  Iman Katolik dan Budaya (hlm. 133-139)
16.  Menjadi Saksi Kristus (hlm. 140-146)
17.  Anakku mau masuk biara! (hlm. 147-153)
18.  Upah yang Adil (hlm. 154-161)
19.  Apakah bencana itu hukuman Tuhan? (hlm. 162-167)
20.  Bergandengan Tangan Memajukan Kesejahteraan Umum (hlm. 168-174)

Penutup
Apa yang tersaji dalam buku ”Benih Firman” adalah sekedar alternatif materi pendalaman iman, yang kiranya bisa memberikan sedikit solusi atas kebutuhan lapangan tersedianya materi pendalaman iman yang siap pakai. Buku ini akan mencapai tujuannya manakala melalui aneka materi sederhana yang terhimpun itu Anda dan para peserta pendalaman iman terdorong untuk berbagi pengalaman iman, sehingga makin teguh beriman akan Kristus dalam Gereja Katolik.
Seminari Tinggi Praja Beato Giovanni, 22 Oktober 2011


[1] Seorang imam diosesan Keuskupan Malang; dengan alamat kontak Email: d_bagijo@yahoo.com atau blog: bagiyowinadi.blogspot.com.
[2] Cara lain yang disebutkan bagaimana Gereja dihidupi oleh Sabda Allah adalah melalui liturgi-doa, pewartaan Injil, eksegese, teologi, maupun kehidupan orang beriman (lih. Lineamenta Sinode, no. 20-24).
[3] Bdk. SAGKI 2010 yang menggunakan cerita dalam menuturkan Kisah Yesus dalam dialog dengan budaya, kemiskinan, dan agama-agama lain.

Sabtu, 02 April 2011

Tinjauan Kritis atas Film The Messiah

Yesuskah yang Disalibkan?
Antara film The Messiah, Injil, dan Data Sejarah
Oleh: F.X. Didik Bagiyowinadi Pr
Publikasi: Jakarta: OBOR, April 2011
Harga: Rp. 25.000,-

Pada tahun 2008 di Iran telah dirilis film The Messiah yang menampilkan figur Yesus yang berbeda dengan Injil kanonik, bahkan menyangkal fakta penyaliban Yesus. Dalam film tersebut disajikan dua versi kisah penyaliban, yang pertama Yesus yang tersalibkan seperti dalam Injil kanonik, yang kedua orang lain yang disalibkan menggantikan Yesus. Film ini dengan sengaja mau menyangkal iman kristiani akan fakta sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus. Bagaimana kita mesti mempertanggungjawabkan iman kita akan Yesus Kristus yang telah wafat dan bangkit untuk penebusan dosa dunia?

Buku kecil ini mencoba memberikan pencerahan atas polemik yang telah dihembuskan oleh film The Messiah. Pembaca akan diajak menyimak adegan demi adegan dalam film The Messiah dan mencoba melihat perbandingannya dengan figur Yesus dalam Injil kanonik. Pembaca diajak bertanya dengan kritis, layakkah film ini dipercaya.

Lebih dari itu, selanjutnya pembaca diajak melacak sumber yang menjadi dasar atas imajinasi film The Messiah dan sejauhmana itu dapat dipercaya. Bagian berikutnya  menyuguhkan data-data sejarah dari "pihak  ketiga", yakni dari dunia Yahudi non kristen, Yunani, dan Romawi yang mengakui fakta peristiwa penyaliban Yesus. Pada bagian akhir pembaca diajak merenungkan makna penyaliban Yesus, bagaimana Tuhan membiarkan utusan-Nya yang saleh itu mati ternista di kayu salib.

Dari semua paparan ini, para pembaca diajak mensyukuri karya penebusan Yesus yang telah mati demi penebusan dosa-dosa dunia. Sungguh suatu bacaan yang patut disimak oleh semua orang yang ingin mempertanggungjawabkan imannya akan Yesus Kristus, terlebih di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Minggu, 20 Februari 2011

Peran Ortu dalam Persiapan Komuni Pertama

Peran Orangtua 
dalam Persiapan Komuni Pertama[1]
Oleh:
F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr[2]

Orang Tua: Pendidik Iman Anak-Anak
Seperti kita ketahui bersama, hak dan tanggung jawab pendidikan anak, termasuk pendidikan iman menjadi orang Katolik sejati, pertama-tama terletak di tangan orang tua. Termasuk juga dalam hal ini, persiapan dan penerimaan sakramen Inisiasi: Baptis - Komuni I– Krisma; bagi anak-anak kita.  Maka orang tua yang bertanggung jawab atas tugasnya, niscaya tidak akan menunda-nunda ataupun mengabaikan kesempatan anak-anak kita menerima sakramen inisiasi. Sangat disayangkan bila orang tua tidak mau peduli kapan anaknya mesti komuni pertama dan menerima sakramen Krisma. Kekurangseriusan orang tua dalam menghayati iman Katolik, seperti seringnya absen dari kewajiban merayakan Misa mingguan, juga akan berdampak pada sikap masa bodoh dalam pendidikan iman anak-anaknya.

Kerjasama Orang Tua dan Gereja
Kendati tanggung jawab pendidikan anak-anak terletak di tangan orang tua, lantaran oleh pelbagai keterbatasan dalam pelaksanaannya orang tua dibantu oleh sekolah dan Gereja. Bantuan sekolah dan Gereja ini bersifat subsidier dan komplementer (melengkapi), bukan substitusi (menggantikan) ataupun mengambil alih.
Karena Gereja - dalam hal ini seksi pendampingan iman anak dan para pembinanya - membantu orang tua mempersiapkan putra-putrinya menyambut komuni, maka adanya kerjasama Gereja dan orang tua sangatlah diharapkan. Bagaimana secara konkret kerjasama itu bisa diwujudkan?
Pertama, orang tua perlu memotivasi dan mengingatkan anaknya agar dengan tekun mengikuti aneka kegiatan persiapan komuni pertama.
Kedua, orang tua ikut memantau kemajuan anaknya dalam persiapan komuni pertama, termasuk dalam menghafalkan doa-doa harian. Merupakan tugas orang tua membantu anak-anak ini sampai bisa menghafal doa-doa harian. Seandainya kesempatan komuni pertama ini tidak digunakan untuk menghafal doa-doa harian dan dasar-dasar iman (Sepuluh perintah Allah, lima perintah Gereja, dll), lalu kapan lagi anak-anak kita akan menghafal? Selain itu, orang tua perlu memantau tugas-tugas yang diberikan apakah sudah dikerjakan anak dengan benar dan baik.
Ketiga, orang tua hendaknya juga mengamati sikap batin anak apakah mereka sudah “pantas” menyambut komuni. Dalam persiapan komuni pertama mereka dibimbing merumuskan niat-niat konkretnya untuk mengatasi kecenderungan berbuat dosa, rajin berdoa pribadi, sikap hormat di Gereja dan kemauan menyalurkan berkat Tuhan kepada sesama. Tentu saja dalam hal ini keteladanan orang tua juga sangat menentukan.
Keempat, seandainya usai penerimaan Komuni Pertama diadakan resepsi “syukuran”, hal ini merupakan tanggung jawab dan tugas orang tua. Oleh karenanya, diharapkan kerelaan para orang tua untuk menjadi panitia resepsi “syukuran” penerimaan komuni pertama ini dan sekaligus menjadi donaturnya.

Tujuan dan Arah Persiapan Komuni Pertama
Gereja - dalam hal ini seksi pendampingan iman anak - membantu mempersiapkan putra-putri kita agar dengan penuh iman, hormat, dan pantas mereka menyambut Tubuh dan Darah Tuhan untuk pertama kalinya. Hukum Gereja mensyaratkan, “Agar anak-anak boleh sambut Ekaristi Mahasuci, haruslah mereka itu memiliki cukup pengertian dan telah dipersiapkan dengan seksama, sehingga dapat memahami misteri Kristus sesuai dengan daya tangkap mereka, dan mampu menyambut Tubuh Tuhan dengan iman dan hormat” (Kan 913 §1).  Maka menjadi tugas orang tua, mereka yang menggantikan kedudukan orang tua, dan pastor paroki agar anak-anak itu “dipersiapkan dengan baik dan secepat mungkin, sesudah didahului sambut sakramen tobat, diberi santapan ilahi itu” (Kan 914).
Berdasarkan harapan Gereja tersebut, maka menurut hemat saya arah pembinaan dan tujuan persiapan Komuni Pertama adalah sebagai berikut:
a.      Anak mengimani kehadiran Tuhan Yesus dalam Sakramen Ekaristi, sehingga rindu menyambut Komuni Kudus dan bersikap hormat pada Sakramen Mahakudus.
b.      Anak bisa menyambut Komuni Kudus dengan hormat dan pantas, serta berpartisipasi aktif dalam Perayaan Ekaristi.
c.       Untuk menyambut Komuni Kudus dengan pantas, anak harus mempersiapkan diri dengan merayakan Sakramen Tobat. Maka mereka harus mengerti apa itu dosa, betapa Allah itu maharahim, dan secara konkret tahu cara mengaku dosa.
      Waktu persiapan penerimaan komuni pertama ini juga merupakan peluang emas untuk menanamkan dasar-dasar kekatolikan pada anak, seperti menghafalkan doa-doa pokok (juga untuk mendoakan penitensi Sakramen Tobat) dan doa spontan, berdevosi kepada Bunda Maria, bangga akan Gereja Katolik, dan mau meneruskan kasih Kristus kepada yang lain.

“Kurikulum” Persiapan Komuni Pertama
Berdasarkan tujuan dan arah pembinaan persiapan komuni pertama di atas, kiranya orang tua perlu mengetahui “kurikulum” persiapan komuni pertama supaya bisa mendampingi putra putrinya dengan baik.  Dalam buku “SIAP MENYAMBUT KOMUNI” (Malang, Dioma: 2005), saya menyusun materi persiapan komuni pertama sebagai berikut.
I.            Doa harian orang Katolik. Diharapkan anak hafal doa-doa pokok, memahami makna tanda salib, Bapa Kami, dan Salam Maria; dan bisa menyusun doa spontan untuk doa pagi, doa malam, doa sebelum dan sesudah makan.
II.         Devosi kepada Bunda Maria. Anak diperkenalkan devosi kepada Bunda Maria, seperti doa rosario, Malaikat Tuhan/ Ratu surga, dan doa novena.
III.       Pedoman Hidup Orang Katolik. Anak hafal Sepuluh perintah Allah dan lima perintah Gereja, serta memahami penerapannya dalam hidup sehari-hari.
IV.      Aku sungguh Anak Allah. Anak diajak mensyukuri rahmat pembaptisannya dan sebagai anak Allah bertekad untuk hidup sebagai manusia baru.
V.         Tuhanku Maharahim. Anak mensyukuri kerahiman Tuhan, terlebih rahmat pengampunan-Nya dalam Sakramen Tobat. Anak dilatih mempraktekkan cara mengaku dosa. 
VI.      Yesus Sahabat Anak-Anak. Anak diajak menyadari kasih Tuhan Yesus kepada mereka dan mau menanggapi tawaran persahabatan Yesus melalui doa pribadi dan berbuat kasih pada sesama yang membutuhkan.
VII.    Yesus Sang Roti Kehidupan. Anak diajak memahami makna Yesus menjadi roti kehidupan bagi dirinya sendiri dan bagi dunia sekitarnya. Dengan mengimani kehadiran Tuhan dalam Sakramen Mahakudus, anak diajar bersikap hormat pada Sakramen Mahakudus.
VIII. Yesus Mengadakan Ekaristi. Anak dibimbing untuk merasa rindu merayakan Ekaristi karena menyadari keempat cara kehadiran Tuhan dalam Misa Kudus.
IX.       Ekaristi sebagai Perjamuan Bersama. Anak menyadari Ekaristi sebagai perjamuan bersama dan tergerak hati untuk berpartisipasi aktif dalam Misa Kudus. Dengan menyambut Komuni, anak akan bersatu dengan Tuhan dan  seluruh umat yang hadir.
X.         Makna Perayaan Ekaristi. Anak memiliki gambaran tentang susunan perayaan Ekaristi, terutama dengan TPE 2005, serta bisa bersikap liturgis yang baik dan benar dan memahami maknanya.
Proses pendampingan anak menyambut komuni ini tidak cukup hanya berlangsung di sekolah dan gereja, tetapi harus dilanjutkan dan diperdalam di rumah bersama orang tua. Agar terjadi kesinambungan materi pendampingan di gereja/ sekolah dan rumah, sebaiknya orang tua juga memiliki Buku Pegangan Pembina “Siap Menyambut Komuni,” sehingga orang tua bisa lebih memotivasi anak, melengkapi pendalaman materi di rumah, dan juga bisa menjelaskan manakala anak bertanya.


Sarana Persiapan Batin Calon Penerima Komuni Pertama
            Selain dengan katekese persiapan Komuni Pertama, anak-anak juga perlu dipersiapkan secara batin untuk menyambut anugerah pertama kalinya bersatu dengan Yesus Ekaristik, yakni melalui doa-doa dan Sakramen Tobat. Untuk maksud inilah saya telah menyusun pula buku kecil STI-5: Doa Triduum dan Refleksi Menjelang Komuni Pertama (Pustaka Nusatama, 2007) dan Buku Perayaan dan Kenangan Misa Komuni Pertama (Dioma, 2009) yang memuat Ibadat Tobat bersama persiapan mengaku dosa dan Liturgi Misa Penerimaan Komuni Pertama untuk Tahun A-B-C sekaligus.

Pendampingan Setelah Komuni Pertama
Setelah menyambut komuni pertama, pendidikan iman anak-anak mesti tetap diperhatikan, seperti ketekunan merayakan misa mingguan, bersikap hormat dan partisipasi aktif dalam Ekaristi, dan makin erat menjadi sahabat Yesus.  Sangat bagus apabila orang tua berkenan mendorong anak-anaknya yang sudah menerima komuni pertama ini menjadi anggota putra-putri altar (misdinar) atau kelompok pelayanan anak  lainnya. Melalui pembinaan dalam kelompok-kelompok itu, niscaya pembinaan iman anak-anak kita bisa berkelanjutan.
Komuni Pertamaku – Kenangan Terindah

Aneka pesan sponsor bagi para penerima komuni pertama tersebut juga sampaikan dalam sebuah buku kado kenangan cantik: Komuni Pertamaku – Kenangan Terindah (Obor, 2008), yang juga memuat pesan dan sapaan Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI bagi anak-anak yang baru menyambut komuni pertama. Semoga segala persiapan katekese dan penerimaan komuni pertama bagi putra-putri kita ini sungguh bermanfaat bagi pertumbuhan iman mereka, tetapi juga menjadi berkat bagi Anda sekeluarga.
Malang, 20 Februari 2011




[1] Artikel ini merupakan revisi atas artikel penulis dengan judul yang sama dalam Seri Kado Perkawinan IV: Mendidik Anak secara Katolik (Pustaka Nusatama, 2006) hlm. 47-54.
[2] Staf Pengajar STFT Widya Sasana Malang. Beberapa buku katekese parokial yang telah ditulisnya antara lain: Siap Menyambut Komuni (Dioma, 2005), Katekese Persiapan Krisma-Siap Diutus (Dioma, 2011), Persiapan Menjadi Katolik-Panduan Katekumen Dewasa (Fidei ress, 2009), Siap Menjadi Pengurus Lingkungan (Obor, 2008).

Rabu, 16 Februari 2011

Menanggapi Kontroversi Baptis Bayi

 Menanggapi Aneka Kontroversi
Soal Pembaptisan Bayi dan Kanak-Kanak[1]

Oleh: F.X. Didik Bagiyowinadi,Pr [2]

Aneka Keraguan dan Gugatan
Praktek Pembaptisan bayi dan kanak-kanak yang dilakukan Gereja Katolik dan Ortodoks, dan juga beberapa Gereja Protestan, sering mendapat gugatan. Sementara orangtua Katolik sendiri yang hendak membaptiskan anaknya pada usia dini, tidak jarang menjadi bingung manakala mendapat pelbagai pertanyaan yang bernada menggugat, seperti:
·         Manakah dasar biblis/alkitabiah praktek Pembaptisan bayi dan kanak-kanak?
·         Apakah hal ini bukan ciptaan Gereja Katolik pada masa kemudian?
·         Bagaimana mungkin bayi dan anak-anak yang belum bisa mengakui imannya secara pribadi kepada Yesus dibaptis, bukankah semestinya yang dilakukan adalah: pewartaan – pengakuan iman – Pembaptisan seperti disarankan  Mrk 16:16?
·         Apakah Pembaptisan dengan penuangan air itu sah? Bukankah kita mesti dibaptis dengan cara dibenamkan seperti Tuhan Yesus dibaptis di Sungai Yordan?
·         Mengapa Pembaptisannya tidak ditunda saja sampai dia bisa mengerti dan mengakui imannya akan Yesus Kristus?
·         Apakah Pembaptisan bayi dan kanak-kanak ini tidak melanggar hak asasi manusia, bukankah sejak awal anak-anak seakan dipaksa mengikuti suatu agama?
·         Apabila kemudian hari mereka menyesal dibaptiskan dan kemudian meninggalkan Gereja, siapa yang mesti dipersalahkan?
Demikianlah beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan berkaitan dengan praktek Pembaptisan bayi dan kanak-kanak. Maka dalam bab ini kita akan mengulasnya secara singkat.

Indikasi biblis
Dimana bukti alkitabiah perintah atau praktek Pembaptisan bayi dan kanak-kanak? Dalam hal ini mesti ditegaskan: bukti eksplisit praktek Pembaptisan bayi dan kanak-kanak memang tidak ada. Tetapi juga harus diketahui, dalam Alkitab juga tidak ada larangan atas Pembaptisan bayi dan kanak-kanak. Dalam Perjanjian Baru kita bisa menemukan indikasi (bukti implisit) adanya praktek Pembaptisan bayi dan kanak-kanak, yakni ketika disebutkan bahwa Lidia (Kis 16:15), kepala penjara Filipi (Kis 16:33), dan Stefanus (1 Kor 1:16) dibaptis bersama “seisi rumahnya”. Dalam frase “seisi rumahnya” tersirat, seandainya di situ ada bayi dan kanak-kanak, tentu mereka akan dibaptiskan juga.
Mungkin Anda akan bertanya, bukankah mereka belum bisa beriman? Dalam hal ini iman mereka mengikuti iman kepala keluarga. Tindakan demikian juga merupakan ungkapan solidaritas dalam keluarga. Hal ini bisa kita bandingkan dengan praktek sunat bagi anak laki-laki Yahudi ketika mereka berusia delapan hari (Kej 17:12). Mereka juga belum bisa memilih dan mengerti, tetapi mereka ambil bagian dalam perjanjian Abraham.
Mengapa Pembaptisan dibandingkan dengan sunat lahiriah Yahudi? Sunat lahiriah Yahudi adalah tanda perjanjian Tuhan dengan manusia yang diterakan pada daging manusia (Kej 17:13). Melalui nabi Yehezkiel Tuhan menjanjikan adanya perjanjian baru yang tidak lagi diterakan pada daging, melainkan Roh Allah sendiri akan berdiam dalam hati manusia (Yeh 36:27). Maka St. Paulus menyebut Pembaptisan sebagai sunat rohaniah yang tidak dikerjakan oleh tangan manusia (Kol 2:11-12).
Kita juga bisa membandingkan Pembaptisan Kristen dengan pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir yang menyeberangi Laut Merah (lih. 1 Kor 10:1-4). Yang dibebaskan dan dibaptis “dalam awan dan dalam laut” itu tidak hanya orang dewasa, tetapi juga bayi dan anak-anak mereka. Maka dalam Pembaptisan “seisi rumah” berarti bayi dan anak-anak pun turut dibaptis.
Bagaimana dengan teks Mrk 16:16 yang mengandaikan urutan: pewartaan – pengakuan iman – Pembaptisan? Dalam hal ini kita mesti ingat bahwa pewartaan Injil pertama-tama ditujukan kepada orang-orang dewasa, sehingga mereka bertobat dan percaya setelah mendengar pewartaan, kemudian memberi diri untuk dibaptis. Berkaitan dengan anak-anak mereka, kita tidak bisa mengandaikan bahwa anak-anak dibiarkan menunggu dulu sampai umur bisa mengerti, baru kemudian dibaptis. Mengapa? Perjanjian Baru sendiri tidak memberi kesaksian adanya penundaan Pembaptisan bagi bayi dan anak-anak. Bahkan St. Petrus, dalam kotbah perdananya pada hari Pentakosta, menegaskan bahwa janji keselamatan dalam Yesus Kristus itu diperuntukkan bagi para pendengar yang notabene dewasa, tetapi juga bagi anak-anak mereka (Kis 2:38-39).
Perintah Tuhan Yesus dalam Mat 28:19-20a dalam teks asli bahasa yunaninya, kerja kata perintah hanya pada kata kerja: “jadikanlah murid”, sementara kata kerja pergi, membaptis, dan mengajar dalam bentuk partisip, bukan kata perintah. Maka alternatif terjemahannya adalah, “Karena itu pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku dengan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan dengan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepada-Mu.” Dengan demikian, membaptis dan mengajar melakukan segala perintah Tuhan Yesus adalah cara untuk menjadikan mereka menjadi murid Yesus. Teks ini sama sekali tidak menyebut tuntutan pengakuan iman pribadi sebelum pembaptisan. Maka dalam terang teks asli bahasa Yunani Mat 28:19-20a, pembaptisan bayi dan kanak-kanak dapat dilihat bahwa dengan dibaptiskan sejak dini, kanak-kanak ini sejak dini pula dijadikan murid Kristus yang selanjutnya akan terus diajar untuk melakukan segala perintah Tuhan Yesus.
Dalam konteks keseluruhan perintah Tuhan Yesus dalam Mat 28:18-20, terdapat empat kata sifat “semua” (Yunani: pas), yakni untuk kata “kuasa” (ay. 18), “bangsa” (ay. 19), “yang telah Kuperintahkan” (ay. 20a), dan “hari” (ay.20b). Di sini kita bisa melihat sifat universal dari perintah Tuhan Yesus. Maka bila ditanyakan, siapa yang harus dibaptis? Semua orang. Apakah hal ini mengecualikan bayi dan kanak-kanak yang belum mengerti? Tentu saja tidak. Semua saja diundang untuk menjadi murid Yesus. Keuniversalan perintah Tuhan Yesus ini dapat kita bandingkan pula dengan Markus 16:15 yang bahkan menyebut perlunya pewartaan Injil kepada semua makhluk/ciptaan, bukan hanya semua manusia!

Kesaksian Gereja awali
            Bagaimana praktek Pembaptisan bayi pada masa Gereja awali? Joachim Jeremias, penulis The Origin of Infant Baptism, menyebutkan indikasi adanya Pembaptisan sejak usia dini dalam kesaksian Polycarpus (dimartir th. 167/8 M) yang “telah mengabdi Kristus selama delapan puluh enam tahun” dan dalam surat Polycrates dari Efesus yang dikirimkan ke Roma (th. 190/1 M) berkaitan dengan diskusi atas perayaan Paskah; dia menulis “telah enam puluh lima tahun dalam Tuhan”. Angka-angka tersebut menggambarkan bagaimana mereka telah dibaptis sejak dini. Demikian pula dari kesaksian St. Yustinus Martir, bahwa banyak orang dewasa laki-laki dan perempuan berusia enam puluh dan tujuh puluh tahun telah menjadi murid Kristus sejak mereka kanak-kanak.
St. Ireneus (120-202 AD) menulis:
Dia [Yesus] datang untuk menyelamatkan semuanya melalui Diri-Nya – semuanya, saya katakan, yang melalui Dia dilahirkan kembali dalam Tuhan, bayi, anak-anak, pemuda, maupun orang lanjut usia. Karena Dia telah melalui setiap jenjang usia, menjadi seorang bayi untuk para bayi, menyucikan bayi-bayi; menjadi seorang anak untuk anak-anak agar menyucikan mereka yang seumur Dia, dan pada saat yang sama menjadi bagi mereka contoh dalam kesalehan, kebenaran, dan ketaatan; menjadi pemuda bagi para pemuda agar menjadi teladan bagi kaum muda dan menyucikan mereka dalam Tuhan.
Ada juga kesaksian lain mengenai Pembaptisan bayi dan kanak-kanak, yakni dari:
·         St. Hippolitus (170-236 M), menganjurkan, “Baptislah pertama anak-anak, dan seandainya mereka dapat berbicara untuk diri mereka sendiri, biarlah mereka yang melakukan (baca: menjawab). Seandainya sebaliknya, biarlah orang tua mereka atau famili lain yang berbicara untuk mereka.”
·         Origenes (185-254 M), menyatakan, “Gereja menerima dari tradisi para rasul penerimaan baptis juga kepada  bayi. Para rasul, yang kepada mereka dipercayakan rahasia-rahasia sakramen ilahi, mengetahui bahwa dalam diri setiap orang dari pembawaan lahirnya terdapat dosa, yang harus dibersihkan dengan air dan Roh.”
·         St. Cyprianus, pemimpin sinode para uskup di Afrika Utara pada abad IV; dalam sinode itu menetapkan Pembaptisan bayi pada usia dua atau tiga hari kelahirannya dari kebiasaan penundaan Pembaptisan pada usia delapan hari (bdk. Tradisi sunat Yahudi).
Memang ada beberapa Bapa Gereja yang dibaptis pada usia dewasa, yakni St. Yohanes Chrisostomus, St. Gregorius Nazianze, St. Basilius Agung dan St. Hieronimus, kendati salah satu orangtua mereka Kristen. Penundaan Pembaptisan mereka lebih dimotivasi oleh pemahaman keliru pada masa itu, yakni: Dosa setelah Pembaptisan tidak akan diampuni. Maka penundaan Pembaptisan niscaya akan memperkecil kesempatan berbuat dosa setelah dibaptis. Kendati demikian, mereka juga tidak melarang ataupun mempertanyakan keabsahan Pembaptisan bayi dan kanak-kanak.
Dari bapa-bapa Gereja tersebut ada dua orang yang memberikan saran penundaan dari kebiasaan orangtua Kristen membaptiskan anak-anaknya, yakni Tertulianus dan Gregorius Nazianze. Tetapi Tertulianus menyarankan penundaan Pembaptisan bagi anak-anak dari orangtua yang tidak Kristen atau anak yang tanpa orangtua. Sementara Gregorius Nazianze menyarankan penundaan sampai usia tiga tahun dengan alasan supaya si anak bisa menjawab sendiri ketika ditanyai pada waktu Pembaptisan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa praktek Pembaptisan bayi dan kanak-kanak sudah ada sejak masa Gereja awali dan kemudian menjadi norma yang umum bagi seluruh Gereja setelah St. Agustinus (abad IV) merumuskan ajaran tentang dosa asal.

Pertanyaan Sebaliknya
            Seandainya pembahasan di atas dianggap masih belum memadai oleh mereka yang menentang Pembaptisan bayi, kiranya pertanyaan sebaliknya bisa diajukan:
·         Manakah dasar Alkitab adanya larangan Pembaptisan bayi dan kanak-kanak?
·         Manakah rujukan Alkitab yang menyebutkan usia yang dianggap matang untuk menerima Pembaptisan?
·         Jika Pembaptisan bayi dan kanak-kanak dianggap sebagai ciptaan Gereja di zaman kemudian, kapan hal itu dimulai dan oleh siapa?
·         Mengapa tidak ada protes mengenai keabsahan Pembaptisan bayi dan kanak-kanak dalam Gereja awali?
·         Manakah bukti adanya aturan penundaan Pembaptisan bagi bayi dan kanak-kanak dari keluarga Kristen dan bagaimana mempersiapkan Pembaptisan mereka?

Bukankah Bayi Belum Bisa Beriman?
            Dari kesaksian Perjanjian Baru tentang Pembaptisan “seisi rumah” kita melihat bahwa Pembaptisan bayi dan anak-anak merupakan ungkapan solidaritas dengan iman kepala keluarga. Begitu juga dalam Pembaptisan bayi dan kanak-kanak dewasa ini, mereka dibaptis dalam iman Gereja. “Iman, yang dituntut untuk Pembaptisan, tidak harus sempurna dan matang; cukuplah satu tahap awal yang hendak berkembang” (KGK 1253). Dalam liturgi Pembaptisan, pada saat ritus penyambutan, imam bertanya: Apa yang Saudara minta dari Gereja Allah bagi Ananda? Orangtua menjawab: Iman.
Dalam Pembaptisan ini benih iman akan dianugerahkan kepada Ananda. Benih ini masih harus ditumbuhkembangkan lebih lanjut. Maka menjadi tugas orangtua dan wali-baptis untuk memelihara dan memupuk benih iman dalam diri Ananda sehingga bertumbuh kembang dan menghasilkan buah (bdk. KGK 1254-1255). Tanpa adanya harapan akan pendidikan iman lebih lanjut Gereja tidak akan membaptis Ananda.
            Kita juga perlu mengingat arti sakramen sendiri, yakni tanda dan sarana kehadiran Tuhan untuk menyalurkan rahmat-Nya. Maka Pembaptisan itu bukan hanya tanda/ simbol bahwa Ananda percaya kepada Kristus; tetapi juga sarana Ananda menerima iman akan Kristus. Memang bayi dan anak-anak belum bisa mengakui imannya secara langsung, tetapi toh menerima rahmat Pembaptisan. Di sini kita justru bisa melihat bahwa rahmat keselamatan itu diberikan tanpa jasa kita (KGK 1250). “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita” (1 Yoh 4:10a).   Jadi, dalam iman Gerejalah Ananda akan dibaptiskan.

Haruskah “Baptis Pembenaman”?
            Pembaharuan liturgi sejak Konsili Vatikan II memberi kemungkinan Pembaptisan dilaksanakan dengan dua cara (Praenotanda  22), yakni tiga kali dibenamkan di air atau dengan cara tiga kali kepala dituangi air sambil menyebut rumusan trinitaris (dibaptis dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus). Kedua cara Pembaptisan tersebut sama-sama sah. Baptis dengan cara dibenamkan memang lebih melambangkan bagaimana dalam Pembaptisan seseorang turut mati dan kemudian turut bangkit bersama Kristus (Rom 6:1-14). Demikian pula penanggalan pakaian lama sebelum Pembaptisan dan pengenaan pakaian baru setelahnya melambangkan lebih konkret penanggalan manusia lama dan pengenaan manusia baru (bdk. Kol 3:9-10).
Tetapi, haruskah Pembaptisan dilakukan dengan cara dibenamkan?  Bukankah Yesus saat dibaptis pun “keluar dari air” (Mat 3:16), berarti seluruh tubuh-Nya dibenamkan? “Keluar dari air” tidak selalu berarti seluruh tubuh dibenamkan. Pembaptisan dengan pembenaman seluruh tubuh bukanlah satu-satunya cara yang sah untuk Pembaptisan.  Filipus membaptis Sida-sida dari tanah Etiopia di jalan yang sunyi atau jalan padang gurun yang tentunya tidak mudah menemukan air untuk membaptis dengan cara dibenamkan (Kis 8:26-40).
Mari kita lihat kesaksian Didakhe,  yakni kesaksian cara hidup Gereja awali yang ditulis sekitar th. 70 M. Didakhe bab 7 berbicara tentang Pembaptisan.
Baptislah dengan cara ini: setelah pertama-tama dijelaskan semua hal itu, baptislah dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus dengan air mengalir. Tetapi jika padamu tidak ada air mengalir, baptislah dengan air lain; dan jika kamu tidak dapat melakukannya dengan air dingin, lakukanlah dengan air hangat. Tetapi jika kamu tidak mempunyai keduanya, tuangkanlah air di atas kepala tiga kali dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Dan sebelum Pembaptisan, biarlah pembaptis dan yang akan dibaptis dan orang-orang lain yang bisa, berpuasa dulu; tetapi sebaiknya kamu meminta yang akan dibaptis untuk berpuasa satu atau dua hari sebelumnya.
            Dari kutipan di atas memang ada pelbagai cara untuk membaptis, yang biasa memang dengan cara dibenamkan di air mengalir, misalnya sungai atau laut. Tetapi baptis dengan cara penuangan air di atas kepala, tetap dimungkinkan. Bila kita ngotot mesti baptis dengan cara dibenamkan, tentunya mereka yang mengalami demam hebat, sakit keras, dan luka parah habis kecelakaan, tidak bisa dibaptis.


Pembahasan lebih lanjut tentang kontroversi praktik pembaptisan bayi dan pemahaman liturgi pembaptisan bayi, bisa disimak selengkapnya dalam buku kami: Pembaptisan Bayi & Kanak-Kanak (Jakarta: Obor, 2011).



[1] Tulisan ini merupakan kutipan dari buku terbaru penulis: Pembaptisan Bayi& Kanak-Kanak. Panduan Orangtua dan Album Kenangan (Jakarta: Obor, 2011), hlm. 21-35.
[2] Seorang imam praja keuskupan Malang, saat ini ditugaskan sebagai staf pengajar kitab suci STFT Widya Sasana Malang dan staf Pembina Seminari Tinggi Praja Beato Giovanni Malang.