Minggu, 20 Februari 2011

Peran Ortu dalam Persiapan Komuni Pertama

Peran Orangtua 
dalam Persiapan Komuni Pertama[1]
Oleh:
F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr[2]

Orang Tua: Pendidik Iman Anak-Anak
Seperti kita ketahui bersama, hak dan tanggung jawab pendidikan anak, termasuk pendidikan iman menjadi orang Katolik sejati, pertama-tama terletak di tangan orang tua. Termasuk juga dalam hal ini, persiapan dan penerimaan sakramen Inisiasi: Baptis - Komuni I– Krisma; bagi anak-anak kita.  Maka orang tua yang bertanggung jawab atas tugasnya, niscaya tidak akan menunda-nunda ataupun mengabaikan kesempatan anak-anak kita menerima sakramen inisiasi. Sangat disayangkan bila orang tua tidak mau peduli kapan anaknya mesti komuni pertama dan menerima sakramen Krisma. Kekurangseriusan orang tua dalam menghayati iman Katolik, seperti seringnya absen dari kewajiban merayakan Misa mingguan, juga akan berdampak pada sikap masa bodoh dalam pendidikan iman anak-anaknya.

Kerjasama Orang Tua dan Gereja
Kendati tanggung jawab pendidikan anak-anak terletak di tangan orang tua, lantaran oleh pelbagai keterbatasan dalam pelaksanaannya orang tua dibantu oleh sekolah dan Gereja. Bantuan sekolah dan Gereja ini bersifat subsidier dan komplementer (melengkapi), bukan substitusi (menggantikan) ataupun mengambil alih.
Karena Gereja - dalam hal ini seksi pendampingan iman anak dan para pembinanya - membantu orang tua mempersiapkan putra-putrinya menyambut komuni, maka adanya kerjasama Gereja dan orang tua sangatlah diharapkan. Bagaimana secara konkret kerjasama itu bisa diwujudkan?
Pertama, orang tua perlu memotivasi dan mengingatkan anaknya agar dengan tekun mengikuti aneka kegiatan persiapan komuni pertama.
Kedua, orang tua ikut memantau kemajuan anaknya dalam persiapan komuni pertama, termasuk dalam menghafalkan doa-doa harian. Merupakan tugas orang tua membantu anak-anak ini sampai bisa menghafal doa-doa harian. Seandainya kesempatan komuni pertama ini tidak digunakan untuk menghafal doa-doa harian dan dasar-dasar iman (Sepuluh perintah Allah, lima perintah Gereja, dll), lalu kapan lagi anak-anak kita akan menghafal? Selain itu, orang tua perlu memantau tugas-tugas yang diberikan apakah sudah dikerjakan anak dengan benar dan baik.
Ketiga, orang tua hendaknya juga mengamati sikap batin anak apakah mereka sudah “pantas” menyambut komuni. Dalam persiapan komuni pertama mereka dibimbing merumuskan niat-niat konkretnya untuk mengatasi kecenderungan berbuat dosa, rajin berdoa pribadi, sikap hormat di Gereja dan kemauan menyalurkan berkat Tuhan kepada sesama. Tentu saja dalam hal ini keteladanan orang tua juga sangat menentukan.
Keempat, seandainya usai penerimaan Komuni Pertama diadakan resepsi “syukuran”, hal ini merupakan tanggung jawab dan tugas orang tua. Oleh karenanya, diharapkan kerelaan para orang tua untuk menjadi panitia resepsi “syukuran” penerimaan komuni pertama ini dan sekaligus menjadi donaturnya.

Tujuan dan Arah Persiapan Komuni Pertama
Gereja - dalam hal ini seksi pendampingan iman anak - membantu mempersiapkan putra-putri kita agar dengan penuh iman, hormat, dan pantas mereka menyambut Tubuh dan Darah Tuhan untuk pertama kalinya. Hukum Gereja mensyaratkan, “Agar anak-anak boleh sambut Ekaristi Mahasuci, haruslah mereka itu memiliki cukup pengertian dan telah dipersiapkan dengan seksama, sehingga dapat memahami misteri Kristus sesuai dengan daya tangkap mereka, dan mampu menyambut Tubuh Tuhan dengan iman dan hormat” (Kan 913 §1).  Maka menjadi tugas orang tua, mereka yang menggantikan kedudukan orang tua, dan pastor paroki agar anak-anak itu “dipersiapkan dengan baik dan secepat mungkin, sesudah didahului sambut sakramen tobat, diberi santapan ilahi itu” (Kan 914).
Berdasarkan harapan Gereja tersebut, maka menurut hemat saya arah pembinaan dan tujuan persiapan Komuni Pertama adalah sebagai berikut:
a.      Anak mengimani kehadiran Tuhan Yesus dalam Sakramen Ekaristi, sehingga rindu menyambut Komuni Kudus dan bersikap hormat pada Sakramen Mahakudus.
b.      Anak bisa menyambut Komuni Kudus dengan hormat dan pantas, serta berpartisipasi aktif dalam Perayaan Ekaristi.
c.       Untuk menyambut Komuni Kudus dengan pantas, anak harus mempersiapkan diri dengan merayakan Sakramen Tobat. Maka mereka harus mengerti apa itu dosa, betapa Allah itu maharahim, dan secara konkret tahu cara mengaku dosa.
      Waktu persiapan penerimaan komuni pertama ini juga merupakan peluang emas untuk menanamkan dasar-dasar kekatolikan pada anak, seperti menghafalkan doa-doa pokok (juga untuk mendoakan penitensi Sakramen Tobat) dan doa spontan, berdevosi kepada Bunda Maria, bangga akan Gereja Katolik, dan mau meneruskan kasih Kristus kepada yang lain.

“Kurikulum” Persiapan Komuni Pertama
Berdasarkan tujuan dan arah pembinaan persiapan komuni pertama di atas, kiranya orang tua perlu mengetahui “kurikulum” persiapan komuni pertama supaya bisa mendampingi putra putrinya dengan baik.  Dalam buku “SIAP MENYAMBUT KOMUNI” (Malang, Dioma: 2005), saya menyusun materi persiapan komuni pertama sebagai berikut.
I.            Doa harian orang Katolik. Diharapkan anak hafal doa-doa pokok, memahami makna tanda salib, Bapa Kami, dan Salam Maria; dan bisa menyusun doa spontan untuk doa pagi, doa malam, doa sebelum dan sesudah makan.
II.         Devosi kepada Bunda Maria. Anak diperkenalkan devosi kepada Bunda Maria, seperti doa rosario, Malaikat Tuhan/ Ratu surga, dan doa novena.
III.       Pedoman Hidup Orang Katolik. Anak hafal Sepuluh perintah Allah dan lima perintah Gereja, serta memahami penerapannya dalam hidup sehari-hari.
IV.      Aku sungguh Anak Allah. Anak diajak mensyukuri rahmat pembaptisannya dan sebagai anak Allah bertekad untuk hidup sebagai manusia baru.
V.         Tuhanku Maharahim. Anak mensyukuri kerahiman Tuhan, terlebih rahmat pengampunan-Nya dalam Sakramen Tobat. Anak dilatih mempraktekkan cara mengaku dosa. 
VI.      Yesus Sahabat Anak-Anak. Anak diajak menyadari kasih Tuhan Yesus kepada mereka dan mau menanggapi tawaran persahabatan Yesus melalui doa pribadi dan berbuat kasih pada sesama yang membutuhkan.
VII.    Yesus Sang Roti Kehidupan. Anak diajak memahami makna Yesus menjadi roti kehidupan bagi dirinya sendiri dan bagi dunia sekitarnya. Dengan mengimani kehadiran Tuhan dalam Sakramen Mahakudus, anak diajar bersikap hormat pada Sakramen Mahakudus.
VIII. Yesus Mengadakan Ekaristi. Anak dibimbing untuk merasa rindu merayakan Ekaristi karena menyadari keempat cara kehadiran Tuhan dalam Misa Kudus.
IX.       Ekaristi sebagai Perjamuan Bersama. Anak menyadari Ekaristi sebagai perjamuan bersama dan tergerak hati untuk berpartisipasi aktif dalam Misa Kudus. Dengan menyambut Komuni, anak akan bersatu dengan Tuhan dan  seluruh umat yang hadir.
X.         Makna Perayaan Ekaristi. Anak memiliki gambaran tentang susunan perayaan Ekaristi, terutama dengan TPE 2005, serta bisa bersikap liturgis yang baik dan benar dan memahami maknanya.
Proses pendampingan anak menyambut komuni ini tidak cukup hanya berlangsung di sekolah dan gereja, tetapi harus dilanjutkan dan diperdalam di rumah bersama orang tua. Agar terjadi kesinambungan materi pendampingan di gereja/ sekolah dan rumah, sebaiknya orang tua juga memiliki Buku Pegangan Pembina “Siap Menyambut Komuni,” sehingga orang tua bisa lebih memotivasi anak, melengkapi pendalaman materi di rumah, dan juga bisa menjelaskan manakala anak bertanya.


Sarana Persiapan Batin Calon Penerima Komuni Pertama
            Selain dengan katekese persiapan Komuni Pertama, anak-anak juga perlu dipersiapkan secara batin untuk menyambut anugerah pertama kalinya bersatu dengan Yesus Ekaristik, yakni melalui doa-doa dan Sakramen Tobat. Untuk maksud inilah saya telah menyusun pula buku kecil STI-5: Doa Triduum dan Refleksi Menjelang Komuni Pertama (Pustaka Nusatama, 2007) dan Buku Perayaan dan Kenangan Misa Komuni Pertama (Dioma, 2009) yang memuat Ibadat Tobat bersama persiapan mengaku dosa dan Liturgi Misa Penerimaan Komuni Pertama untuk Tahun A-B-C sekaligus.

Pendampingan Setelah Komuni Pertama
Setelah menyambut komuni pertama, pendidikan iman anak-anak mesti tetap diperhatikan, seperti ketekunan merayakan misa mingguan, bersikap hormat dan partisipasi aktif dalam Ekaristi, dan makin erat menjadi sahabat Yesus.  Sangat bagus apabila orang tua berkenan mendorong anak-anaknya yang sudah menerima komuni pertama ini menjadi anggota putra-putri altar (misdinar) atau kelompok pelayanan anak  lainnya. Melalui pembinaan dalam kelompok-kelompok itu, niscaya pembinaan iman anak-anak kita bisa berkelanjutan.
Komuni Pertamaku – Kenangan Terindah

Aneka pesan sponsor bagi para penerima komuni pertama tersebut juga sampaikan dalam sebuah buku kado kenangan cantik: Komuni Pertamaku – Kenangan Terindah (Obor, 2008), yang juga memuat pesan dan sapaan Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI bagi anak-anak yang baru menyambut komuni pertama. Semoga segala persiapan katekese dan penerimaan komuni pertama bagi putra-putri kita ini sungguh bermanfaat bagi pertumbuhan iman mereka, tetapi juga menjadi berkat bagi Anda sekeluarga.
Malang, 20 Februari 2011




[1] Artikel ini merupakan revisi atas artikel penulis dengan judul yang sama dalam Seri Kado Perkawinan IV: Mendidik Anak secara Katolik (Pustaka Nusatama, 2006) hlm. 47-54.
[2] Staf Pengajar STFT Widya Sasana Malang. Beberapa buku katekese parokial yang telah ditulisnya antara lain: Siap Menyambut Komuni (Dioma, 2005), Katekese Persiapan Krisma-Siap Diutus (Dioma, 2011), Persiapan Menjadi Katolik-Panduan Katekumen Dewasa (Fidei ress, 2009), Siap Menjadi Pengurus Lingkungan (Obor, 2008).

1 komentar:

  1. Selamat siang Romo, sy thomas dr Gereja Maria Bunda Segala BAngsa Nusa Dua Bali. Bisa minta isin untuk copy tulisan ini utk dimuat di majalah bulanan sy, Mater Dei, di Gereja MBSB Nusa Dua...

    BalasHapus