Minggu, 23 Oktober 2011

Benih Firman - Alternatif Materi PID



Benih Firman:
Sebuah Alternatif Materi Pendalaman Iman Dewasa
Oleh:
F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr[1]


            Dalam Gereja Katolik Indonesia, pendalaman iman bukanlah kegiatan gereja yang banyak peminatnya. Pendalaman iman di lingkungan ini tidak selaris-maris doa arwah-syukur ataupun aneka bentuk devosi-ziarek. Kendati demikian, kita patut bersyukur bahwa di lingkungan-lingkungan ataupun wilayah diselenggarakan pendalaman iman, meniru Gereja para rasul yang tidak hanya tekun berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa, tetapi juga duduk mendengarkan pengajaran para rasul (Kis 2:42). Gereja Perdana menyadari perlunya mendengarkan pengajaran para saksi mata Yesus yang terpilih ini (bdk. Kis 1:21-22) sebab mereka selalu berhadapan dengan pelbagai angin pengajaran yang menyesatkan (lih. Ef 4:14). Melalui upaya pendalaman iman ini, dimana Kitab Suci semakin luas dibuka, dibaca, dan direnungkan bersama, cita-cita para Bapa Konsili Vatikan II mau diwujudkan (lih. DV 22). Menurut Sinode Para Uskup 2008, pendalaman iman merupakan salah satu cara Sabda Allah menghidupi Gereja, yakni melalui katekese.[2]
            Tulisan ini dimaksudkan untuk menyajikan panorama singkat kegiatan pendalaman iman sebagai bentuk katekese dalam Gereja Indonesia dengan segala problematiknya, antara lain terbatasnya bahan yang siap pakai di lapangan. Selanjutnya pada sessi berikut Anda akan diantar untuk mempelajari aneka alternatif materi pendalaman iman yang terhimpun dalam buku Benih Firman (Obor, 2011). Diharapkan dengan demikian pembaca bisa terbantu dalam memanfaatkannya sebagai bahan pendalaman iman, baik pribadi maupun kelompok.

  1. Nilai-Nilai di Balik Pendalaman Iman
Pendalaman iman dewasa yang selama ini diadakan di lingkungan/wilayah dengan menghadirkan para pemandu “lokal” paroki, memang tidak seheboh dengan aneka acara Penyegaran Rohani yang dibawakan oleh para pembawa firman yang populer, entah itu imam ataupun awam. Namun, dengan melibatkan kaum beriman awam sebagai tenaga pemandu pendalaman iman, kita justru bisa melihat  nilai-nilai di balik kegiatan pendalaman iman ini.
Pertama, semakin banyak kaum beriman awam yang dilibatkan dalam tugas pewartaan, sebagai perwujudan tugas kenabian berkat baptis dan krisma. Kaum beriman awam mewartakan Injil tidak cukup dengan kesaksian hidup (LG 35), namun bila ada kesempatan, mewartakannya juga dengan kata-kata (AA 6).
Kedua, karena para pemandu bukanlah pembawa firman yang populer, di sini kita justru diajak pertama-tama datang dan berkumpul untuk menyadari kehadiran Kristus dan merenungkan Firman-Nya, bukan justru jatuh pada pengkultusan seorang pembawa firman.
Ketiga, dalam pendalaman iman ini umat diajak saling berbagi pengalaman iman untuk saling menguatkan. Peran pemandu lebih sebagai fasilitator. Maka sharing pengalaman perlu mendapat tempat dan waktu yang cukup. Sharing bukan dimaksudkan untuk pamer pengalaman iman, melainkan memberikan kesaksian bagaimana Firman Tuhan itu tetap berbunyi dan relevan di tengah aneka kesulitan dan tantangan. Maka pemandu pun tidak perlu khawatir manakala pesertanya jauh lebih pandai, sebab mereka tidak diajak untuk unjuk pengetahuan iman, melainkan berbagi pengalaman iman.

  1. Masih Perlukah Orang Dewasa Ikut Pendalaman Iman?
Banyak orang mengira bahwa mendalami iman Katolik hanyalah perlu dilakukan oleh para katekumen, anak-anak dan remaja, ataupun mereka yang masih minim pengetahuan imannya. Kalau kita kembali para perintah Tuhan Yesus dalam Mat 28:19-20a yang dalam teks Yunaninya hanya memuat satu kata kerja perintah (Jadikanlah semua bangsa murid-Ku”, sementara ketiga kata kerja yang lain (pergi, membaptis, dan mengajar) adalah suatu partisip, maka bisa diterjemahkan sbb:
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dengan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus [dan] dengan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.
Di sini jelas bahwa tujuan utamanya adalah menjadikan semua orang dari pelbagai bangsa menjadi murid Yesus. Kegiatan membaptis dan mengajar adalah cara bagaimana menjadikan mereka murid Kristus. Partisip “dengan mengajar” mengikuti “dengan membaptis”. Maknanya jelas, bahwa pengajaran iman atau katekese juga tetap diberikan setelah orang dipermandikan. Pengajaran di sini bukan pertama-tama soal doktrin atau ajaran iman, melainkan soal praksis mewujudkan segala ajaran Kristus. Upaya menjadi murid Yesus, yang terus melakukan semua perintah-Nya, tidak akan pernah selesai, sebab hanya Tuhan Yesuslah satu-satunya Guru kita (lih. Mat 23:8). Maka menjadi jelaslah, kenapa kaum beriman dewasa pun perlu tetap memperdalam imannya.
Alasan lain mengapa kaum beriman dewasa perlu terus memperdalam imannya adalah karena dalam perwujudan iman kita akan terus dihadapkan pada aneka situasi konkret, maka kita dituntut terus mengolah kondisi tanah batin agar Firman itu jatuh di tanah yang subur dan menghasilkan buah berlimpah.


Mat 13:1-23
Mrk:1-20
Luk 8:4-15
Semak duri
Kekhawatiran dunia dan tipu daya kekayaan
Kekhawatiran dunia, tipu daya kekayaan, dan keinginan akan hal-hal yang lain
Kekuatiran, kekayaan, dan kenikmatan hidup
Nasib Benih yang tumbuh di semak duri
Tidak tumbuh baik dan akhirnya mati
Tidak berbuah
Tidak menghasilkan buah yang matang
Tanah yang baik
Mendengar Firman dan mengerti
Mendengar dan menyambut Firman itu
Mendengar Firman itu dan menyimpannya dalam hati yang baik

Pendalaman iman dewasa dimaksudkan untuk mengolah kondisi tanah batin ini sehingga menjadi tanah yang subur bagi Firman Tuhan dan menghasilkan banyak buah. Pengolahan tanah batin ini dilakukan dengan permenungan dan sharing pengalaman iman bersama sehingga kita mendapatkan komitmen kuat untuk mewujudkan perintah Tuhan.

  1. Pendalaman Iman dalam Beberapa Dokumen Gereja
Paus Paulus VI dalam ensiklik Catechesi Traedendae no. 43 menggarisbawahi perlunya katekese bagi kaum beriman dewasa. Menurut beliau, mereka harus terus-menerus diterangi, disemangati, dan diperbaharui sehingga dapat menembus realitas temporal dalam pengalaman mereka. Sementara Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Redemptoris Missio No. 33 menyebut perlunya pewartaan Injil kepada Gereja sendiri (reksa pastoral), selain evangelisasi pertama (kepada orang atau bangsa yang belum mengenal Kristus) dan reevangelisasi (kepada orang atau daerah yang pernah menjadi Kristen, namun tidak lagi mempraktekkan imannya).
General Directory for Catechesis (GDC) no. 175 menyebut aneka tugas katekese bagi kaum beriman dewasa, yakni:
·         mewartakan pembentukan dan pengembangan  hidup kristiani dalam terang kebangkitan Kristus,
·         mengajar dan memberikan penilaian kritis atas perubahan sosial-kultural dalam masyarakat kita dalam terang iman,
·         menjernihkan pengalaman religius dan pertanyaan-pertanyaan moral dewasa ini,
·         menjernihkan hubungan antara aktivitas gerejani dan aktivitas sosial di tengah masyarakat,
·         mengembangkan pendasaran rasional atas pengertian iman,
·         mendorong kaum beriman dewasa untuk  turut ambil bagian dalam misi Gereja dan dapat memberikan kesaksian kristiani di tengah masyarakat.


  1. Pendalaman Iman dan Komunitas Basis
Menurut GDC 254, komunitas kristiani adalah asal, tempat (locus), dan tujuan dari katekese. Adanya komunitas kristiani menuntut adanya katekese, komunitas kristiani juga menjadi tempat berkatekese, dan akhirnya katekese mengabdi komunitas kristiani agar bertumbuh kembang dalam iman akan Kristus. Katekese yang dilakukan dalam komunitas kristiani yang lebih kecil (komunitas basis) menjadi jauh lebih efektif (GDC 264), karena:
·   Adanya rasa persaudaraan dan saling mengenal di antara umat satu komunitas basis,
·   Katekese secara konkret dapat memperdalam kehidupan komunitas dalam semangat iman kristiani.
·   Komunitas basis dengan jumlah yang relatif kecil memungkinkan orang merasa nyaman untuk berbagi pengalaman iman.

  1. Benih Firman” sebagai Alternatif Materi Pendalaman Iman
Salah satu kendala pelaksanaan pendalaman iman rutin di lingkungan-lingkungan, kelompok kategorial, ataupun paroki adalah terbatasnya bahan pendalaman iman yang siap pakai. Di luar masa APP dan bulan Kitab Suci, diandaikan paroki berkreativitas menciptakan bahan pendalaman iman sendiri. Namun, pengandaian demikian tidak selalu terwujud. Buku “Benih Firman” ini menawarkan alternatif 20 materi pendalaman iman yang siap-pakai di lapangan, sehingga bisa mengisi “bulan-bulan kosong” selama dua tahun.
Adapun skemanya sebagai berikut:
a.    Pergumulan Iman: Menampilkan pergumulan iman umat sehari-hari yang disajikan secara naratif eksperiensial, sebagaimana cara beriman yang lazim bagi orang Asia.[3] Beberapa narasi bertitik tolak dari pengalaman konkret umat, namun dijadikan anonim.
b.    Terang Firman: Menyajikan teks Kitab Suci yang bisa menginspirasi pergumulan iman tersebut. Peserta bisa diajak menyimak dan memperdalam teks. Pemandu bisa memanfaatkan buku-buku tafsir Kitab Suci yang diusulkan pada hlm. 5. Penjelasan eksegetis tidak disajikan mengingat terbatasnya waktu pendalaman iman, tetapi juga tujuan pendalaman ini bukanlah sekedar pendalaman kitab suci.
c.    Inspirasi Iman: Peserta diajak menyimak bagaimana Kitab Suci dan Ajaran Iman Gereja memberikan pencerahan atas pergumulan iman yang disajikan.
d.   Berbagi Pengalaman Iman: Pemandu mengajak peserta berbagi pengalaman iman dengan bantuan panduan pertanyaan. Pemandu boleh menambahkan pertanyaan untuk makin mengkonkretkan dengan situasi peserta. Merupakan tugas berat bagi pemandu membuat para peserta mau dan berani berbagi pengalaman iman.
e.    Setelah memberikan beberapa penegasan (5 menit), pemandu mengajak peserta mengangkat doa-doa umat spontan yang kiranya berkaitan dengan tema yang direnungkan dan selanjutnya menutup dengan Doa Bapa Kami bersama dan “Marilah Berdoa”.
f.     Alokasi waktu pendalaman iman adalah 60-90 menit.
g.    Sangat baik bila peserta juga memiliki buku ini sehingga dari rumah bisa mempersiapkan diri terlebih dahulu.
h.   Pemakaian ke-20 materi ini tidak harus berurutan.
i.      Ada baiknya sebulan sekali tim pemandu berkumpul bersama untuk mengadakan evaluasi pendampingan, mempelajari bahan bersama, dan juga pembagian tugas.

 

  1. Aneka Materi Pendalaman Iman Dewasa dalam buku “BENIH FIRMAN”
Berikut ini daftar tema pendalaman iman yang terhimpun dalam buku “Benih Firman”. Secara singkat kita akan menyimak isinya pada sessi berikutnya.
1.      Jalan Keselamatan dalam Agama Katolik (hlm. 28-34)
2.      Relasi Personal dengan Tuhan Yesus (hlm. 35-41)
3.      Mengimani Kuasa dan Kasih Tuhan (hlm. 42-47)
4.      Devosi Maria yang Sehat (hlm. 48-55)
5.      Semua Dipanggil Menjadi Suci (hlm. 56-64)
6.      Tuhan Yesus di Zaman Modern (hlm. 65-71)
7.      Kasih Versi Tuhan Yesus (hlm. 72-79)
8.      Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Kita (hlm. 80-87)
9.      Sakramen Tobat : Apakah Masih Laku? (hlm. 88-94)
10.  Menjadi Penjala Manusia (hlm. 95-101)
11.  Yuk, Terlibat di Lingkungan (hlm. 102-108)
12.  Persembahan yang Ikhlas, Bebas, dan Pantas (hlm. 109-116)
13.  Mendoakan Arwah (hlm. 117-125)
14.  Anak Allah Harus Sukses? (hlm. 126-132)
15.  Iman Katolik dan Budaya (hlm. 133-139)
16.  Menjadi Saksi Kristus (hlm. 140-146)
17.  Anakku mau masuk biara! (hlm. 147-153)
18.  Upah yang Adil (hlm. 154-161)
19.  Apakah bencana itu hukuman Tuhan? (hlm. 162-167)
20.  Bergandengan Tangan Memajukan Kesejahteraan Umum (hlm. 168-174)

Penutup
Apa yang tersaji dalam buku ”Benih Firman” adalah sekedar alternatif materi pendalaman iman, yang kiranya bisa memberikan sedikit solusi atas kebutuhan lapangan tersedianya materi pendalaman iman yang siap pakai. Buku ini akan mencapai tujuannya manakala melalui aneka materi sederhana yang terhimpun itu Anda dan para peserta pendalaman iman terdorong untuk berbagi pengalaman iman, sehingga makin teguh beriman akan Kristus dalam Gereja Katolik.
Seminari Tinggi Praja Beato Giovanni, 22 Oktober 2011


[1] Seorang imam diosesan Keuskupan Malang; dengan alamat kontak Email: d_bagijo@yahoo.com atau blog: bagiyowinadi.blogspot.com.
[2] Cara lain yang disebutkan bagaimana Gereja dihidupi oleh Sabda Allah adalah melalui liturgi-doa, pewartaan Injil, eksegese, teologi, maupun kehidupan orang beriman (lih. Lineamenta Sinode, no. 20-24).
[3] Bdk. SAGKI 2010 yang menggunakan cerita dalam menuturkan Kisah Yesus dalam dialog dengan budaya, kemiskinan, dan agama-agama lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar